Guestbook
Ervan Bahrian
03/04/09 @ 9:38AM
PENGHALANG KELEZATAN IMAN (Renungan Jum\'at)
Sudah kah kita merasakan manisnya iman dalam kehidupan kita? Benar kah kita ini hidup bahagia dalam Islam?
Ada lima hijab yang menutupi hati kita, sehingga kita tidak bisa merasakan manisnya iman.
PERTAMA : NAFSU YANG DIPERTURUTKAN
Selama nafsu kita perturutkan, selama itu pula kita tidak pernah bisa khusyuk dalam shalat. Akibatnya, kita pun tidak bisa merasakan lezatnya iman.
KE DUA : AMAT MENCINTAI DUNIA
Susah tidur sebelum melihat deposito. Rate dollar selalu jadi titik perhatian. Kalau kekayaannya tidak bertambah, dia gelisah. Pokoknya, yang ada dalam pikirannya selalu fulus dan fulus. Manusia yang sangat mencintai dunia tak ubahnya seperti anjing.
Allah SWT berfirman:
\"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu mnghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia juga mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itu lah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakan lah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.\" (QS Al A\'raaf 176)
KE TIGA : SETAN SELALU MENGGODA
Itu terjadi karena kekurangan kita.
Setan datang menggoda kita, karena kita memperturutkan hawa nafsu. Orang yang memperturutkan hawa nafsunya akan mudah dikuasai setan. Sebaliknya, setan tidak berdaya menghadapi orang yang kuat imannya.
KE EMPAT : MEMILIKI SIFAT-SIFAT TERCELA
Salah satu contoh: berbohong.
Bohong itu penyakit yang berbahaya.
Orang paling banyak ke neraka karena bohong.
KE LIMA : DOSA YANG DILAKUKAN
Karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali bertobat kepada Allah. Dosa itu membuat kita malsa beribadah. Dosa itu mengundang sial.
Rasulullah SAW menyatakan dalam haditsnya:
\"Orang yang berbuat dosa itu membawa sial. Kalau pun tidak di dunia, dia pasti sial di akhirat. Karena itu jauhi lah dosa.\"
Selama kita tidak bertaqwa, tidak serius dalam beribadah, masih main-main menjalankan ajaran Islam (hanya basa-basi), maka selamanya kita tidak akan merasakan manisnya Iman. Karena itu, siapa pun yang ingin hidup bahagia di dunia, apalagi di akhirat nanti, bertaqwa lah kepada Allah. Sungguh-sungguh lah bertaqwa kepada Allah. Semoga Allah kayakan hati kita dengan iman dan taqwa. Dan semoga Allah hapus hijab dari hati kita, sehingga kita bisa merasakan lezatnya iman.
Wassalam.
Haris Fadly
(Website)
19/03/09 @ 11:10AM
BERJASALAH DAN JANGAN MINTA JASA!
Sekali-kali orang tidak akan pernah mulia di hadapan manusia apalagi di mata Allah jika ia selalu mengungkit2 apa yang sudah diberikan dan dikerjakannya untuk khalayak, dan sekali2 amal nya itu tidak akan bermanfaat dan maslahat kelak, karena yang selalu mendasar dalam pikirannya dan memotivasi dirinya hanya jasa penghargaan yang didapat. Jasa seseorng akan dilihat dan dihargai manakala ia telah maksimal berbuat untuk orang lain secara tulus dan ikhlas yang berbuah maslahat dan manfaat. Ingatlah yang seperti itu hanya Nol Besar di Mata Sang Kholiq, belajarlah pada seekor semut yang rela berkorban untuk kelompoknya demi kemaslahatan bersama dengan prinsip kebersamaan, serta belajarlah pada seekor Lebah yang setia dan melindungi ratunya dari segala yang mengganggunya yang mana semua akan berujung manis seperti madu hasil jerih payah yang didapat secara IKHLAS. (harisfadly.wordpress.com / syekh_haris@yahoo.com)
MISRI ANDI
(Website)
12/03/09 @ 4:31PM
MEMBIASAKAN ANAK MANDIRI SEJAK USIA DINI
Misriandi*
Pendahuluan
Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas sengaja mengawali tulisan ini, karena memang kita harus dapat berlaku adil kepada anak-anak kita, baik sebagai anak kandung maupun sebagai anak didik. Untuk menghadirkan anak yang mandiri sudah sepantasnyalah yang dilakukan adalah memberikan keadilan kepada anak. Sering kali kita sebagai orang dewasa memberi ruang yang sangat terbatas kepada anak-anak, atau bahkan menuntut keberhasilan yang begitu banyak.
Sudah sepantasnyalah apabila orang tua menginginkan setiap anaknya cerdas, mandiri dan bertanggung jawab. Besarnya tuntutan sering kali membuat masa kanak-kanak menjadi hilang begitu saja karena waktu anak telah penuh dengan berbagai kegiatan yang ditentukan dan dituntut bukan atas dasar kesenangan dan kebutuhan anak. Kondisi hilangnya waktu bermain anak bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tapi juga diberbagai pelosok dareh, dalam hal ini termasuk mempekerjakan anak dibawah umur.
Kecemasan orang tua sering kali ditandai dengan ucapan-ucapan yang menghambat kemandirian anak. Ucapan yang sering kita dengar di dunia sekitar anak-anak adalah kata jagan atau kata tidak, ini membuktikan kita sering kali membatasi ruang kebebasan anak dengan menggunakan kata-kata larangan. Dampak dari kata-kata larangan tersebut akan pasti mempengaruhi keberanian dan kemandirian anak. Seperti saja ketika anak ingin makan sendiri begitu banyak larangan yang sering kita dengar, tentu alasan larangan tersebut sepertinya sangat tidak adil bagi anak.
Kemandirian sangat erat terkait dengan anak sebagai individu yang mempunyai konsep diri, penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem), dan mengatur diri sendiri (self regulation). Anak paham akan tuntutan lingkungan terhadap dirinya, dan menyesuaikan tingkah lakunya. Anak pada usia tiga tahun sudah sepantasnyalah dapat melakukan kemampuan dasarnya atau perbuatan yang dapat menolong dirinya sendiri, seperti; tidur, makan, ganti pakaian atau kekamar mandi sendiri. Untuk itu berikut merupakan tips bagaimana mengajar anak agar hidup mandiri, yang diambilakan dari berbagai sumber bacaan dan pengalaman sebagai pendidik.
Tips Mengajar Anak Hidup Mandiri
Orang tua atau pendidik merupan sosok tauladan utama bagi anak. Anak belajar soal kehidupan dari orang disekitarnya, terutama orang tuanya. Apa yang dilakukan orangtua akan dicontoh oleh anak. Jika sedikit-sedikit orangtua atau guru sudah minta tolong pembantu tau pramu bakti, jangan terlalu berharap anak nantinya bisa hidup mandiri. Berikut ini beberapa tips untuk mengajarkan anak hidup mandiri:
1. Melatih anak dengan hal-hal sederhana sejak dini, misalnya, merapikan mainan ke tempat mainan yang disediakan, merapikan alas kaki, memasukkan baju kotor ke tempatnya, mengambil makanan dan minumnannya sendiri atau merapikan meja belajar, Hal sederhana yang anak sudah mampu melakukannya hendalah anak sudah lakukan sendiri, tentu belum sebaik hasil yang orang dewasa lakukan tapi hasil yang telah anak-anak lakukan merupakan latihan utuk anak mulai mandiri.
2. Jadilah tauladan kemandirian bagi anak. Sering kita mendengar slogan memberikan tauladan sekali lebih efektif daripada kita memberikan nasehat seribu kali. Jika orang tua atau guru memberikan contoh mandiri, anak akan menirukannya. Orang dewasa kerena memiliki kemampuan dan kekuasaan disadari atau tidak untuk keperluan yang sederhana dan sangat pribadi sering kali meminta bantu kepada pramubakti, pembantu atau anak sendiri. Ini jelas memberi contoh yang tidak baik bagi anak. Hal sederhana seperti mengambil air minum, makanan, membukakan pintu, mengangkat telpon, atau hal-hal lain yang apabila kita lakukan hal tersebut dapat dengan mudah kita dapat lakukan tanpa meminta bantu kepada siapapun. Kecuali kondisi yang kita tidak mungkin untuk melakukannya walaupun sederhana.
3. Melatih anak bersabar mengerjakan sesuatu. Jangan putus asa, meski hasil pekerjaan anak tak langsung sempurna. Pengertian sabar memang cukup luas, untuk usia anak-anak perlu ditekankan apabila mengerjakan sesuatu hendaklah semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ia miliki, jaangan cepat menyerah dan jadikan apa yang sudah dikerjakan berhasil atau tidak merupakan pelajaran yang berharga itu bekan pekerjaan mendatang suapaya lebih baik
4. Beri tantangan tugas yang lebih rumit. Ini akan mencegah kebosanan sekaligus meningkatkan keragaman keterampilan anak. Tugas yang diberikan hendaknya tetap pekerjaan yang wajar dan mampu anak lakukan. Untuk menggali kreatifitas anak diperluakan pekerjaan yang lebih menantang, jagan lupa terlebih dahulu anak sudah mengetahui manfaat atau tujuan pekerjaan yang ia lakukan.
5. Pengawasan ganda. Bila ada pembantu di rumah atau pramu bakti di sekolah, berikan instruksi kepada pembantu rumah atau pramu bakti soal tugas-tugas yang harus dikerjakan sendiri oleh anak-anak. Sering kita memberikan atauran atau tata tertib tapi kurang sosialisasi kepada semua pihak, sehingga ada pihak lain yang seharusnya mendukung mala dapat dijadikan anak tempat berlindung. Untuk itu kita harus lebih tegas dan menyeluruh dalam mengaktualisakan ketentuan yang telah dibuat, sehingga hasil yang didapat lebih maksimal.
6. Buat kesepakatan dengan anak soal tugas-tugas yang harus dilakukan sendiri atau bersama dan tetapkan juga konsekuensi jika tidak dijalankan. Kesepakatan tersebut hendaknya ditempelkan di tempat yang strategis agar dapat selalu mengingatkan. (lihat dan cari bagaimana langka-langka membuat kesepakatan dengan anak atau siswa).
7. Berikan pujian atau penghargaan. Memuji jika anak-anak mampu melakukan tugas-tugas secara mandiri, walaupun itu kita anggap sangat kecil. Tidak ada salahnya bila sekali-kali anak diberi penghargaan khusus bagi anak atau siswa memiliki prestasi khusus, lihat dan perhatikan ketentuan yang telah dibuat.
8. Diberikan kepercayaan untuk melakukan suatu hal yang ia mampu kerjakan sendiri, untuk itu baik juga bila sekali-kali anak merasakan akibat dari perbuatan yang ia lakukan. Karena proteksi yang begitu besar kepada anak sering kali kita tidak memberikan kepercayaan yang penuh. Seperti membawakan tas sekolah, makanan, minuman atau perlengkapan anak yang sebenarnya ia mampu nutuk melakukannya, agar anaklah yang mengerjakannya. Adakalanya anak memang harus merasakan akibat dari kelalaiannya sehinnga kelak dia lebih hati-hati dan lebih mempersiapkan diri, tentu ini juga sebaiknya sesuai dengan atauran atau ketentuan yang sudah disepakati.
9. Membentuk kebiasaan. Jikalau anak sudah terbiasa dimanja dan selalu dilayani, ia akan menjadi anak yang selalu tergantung kepada orang lain. Salah satu contoh kebiasaan anak yang harus dibentuk sejak bayi adalah dalam hal kebiasaan tidur. Pada usia 5-6 bulan,bayi sudah harus dibiasakan tidur pada waktunya di atas tempat tidur.Kalau bukan dalam perjalanan, bayi tidak boleh dibiasakan tidur digendongan. Ketika sudah waktunya tidur, naikkan bayi ke atas tempat tidur, nyalakan musik dan temani bayi anda sampai dia tidur. Kalau sudah terbiasa sejak bayi, setelah besar sudah tidak terlalu sulit lagi.
10. Bimbingan yang konsisten dan konsekuen dari orang tua dan guru. Jika orang tua bekerja, maka harus yakin betul bahwa pengasuh anak konsisten dan terampil dalam memberlakukan disiplin belajar yang di terapkan untuk anak. Tanpa syarat disiplin belajar yang terapkan tidaklah mungkin menajdi bagian dalam diri anak. Disiplin belajar harus dimulai dari rumah, sebelum anak bisa menemukan sistem belajarnya sendiri di sekolah.
11. Sapalah anak dengan kalimat yang pendek dan sederhana. Anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek : “Halo anak pintar apa kabar!”. Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua atau guru, tanpa harus di dorong-dorong.
12. Dorong untuk melihat alternative. Anak sebaiknya tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah , orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di sektarnya yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Kesempatan terbaik bagi kita, baik sebagai orang tua maupun guru untuk menanamkan keimanan pada anak, sehingga apabila dewasa nanti anak akan dapat mengatasi permasalahan apapun dengan tenang dan terkendali.
13. Berikan semangat atas apa yang diusahakannya Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Khusus untuk hal-hal yang membahayakan orang tua atau guru hendakalah menjelaskan kepada anak dengan pendekatan diskusi atau memberi pengertian, bahwa apa yang dikerjakannya berbahaya atau dapat merugikan.
14. Berikan tempat kemandirian, tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga, sedapat munkin anak-anak disediakan tempat belajar dan tempat tidur khusus untuk anak. Melatih kemandirian kepada anak sedini mungkin di rumah dengan memberikan tanggung jawab atas apa yang dia miliki dan memupuk rasa keberanian dengan tidur sendiri, merupakan awal bagi anak untuk dapat mandiri dan berani.
15. Berikan contoh yang kongrit, sangat tepat bila dapat anak diberi contoh-contoh yang lansung apa adanya. Kita akan mendapatkan contoh nyata tersebut yang ada disekitar kita, kita sengaja berkunjung atau mengundang anak-anak yang kita lihat ia memang sudah mandiri. Seperti saat kita mengajarkan anak untuk tidur sendiri kita membuktikan dengan memanggil anak yang sudah berani untuk tidur sendiri tau bila mungkin mendatangi anak yang sudah berani tidur sendiri. Atau contoh lain bagaimana anak-anak yang masih dibawah usia anak kita sudah dapat makan dengan sendirinya, dan masih banyak lagi contoh kongrit yang ada disekitar kita agar anak dapat melihat langsung.
Penutup
Belum akan terjadi kiamat sehingga anak selalu menjengkelkan kedua orang tuanya, banjir di musim kemarau, kaum penjahat melimpah, orang-orang terhormat (mulia) menjadi langka, anak-anak muda berani menentang orang tua serta orang jahat dan hina berani melawan yang terhormat dan mulia. (HR. Asysyihaab).
Dalam hiruk pikuk keramaian dan dari kehidupan sehari-hari, bagaimana kita, sebagai orang tua ataupun guru tetap menjadikan prioritas utama mengembangkan kepribadian anak, sehingga anak mampu menghadapi tantangan, hambatan, ancaman dari berbagai bentuk dengan benteng yang kokoh yaitu IMAN dan TAQWA.
Sumber Bacaan;
Muhammad Husain; Agar Anak Mandiri, Irsyad Baitus Salam
Michelle Kennedy, Buku Pintar Keluarga: Melatih Anak Agar Mandiri , Gramedia
Anne Kartawijaya & Kay Kuswanto; Mendidik Anak Untuk Mandiri
Windya Novita; Serba-serbi Anak, Elex Media Komputindo
*Misriandi, M.Pd. adalah Guru di SDS Model Islamic Village (RSBI) dan juga Dosen pada Universitas Muhammadiyah Jakarta, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakultas Agama Islam.
Masukan, kritik dan sarannya kami sangat harapkan, makasih
Ervan Bahrian
24/02/09 @ 11:14AM
INI KAH MILIKKU?
Seringkali aku berkata ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan
Seolah semua \"derita\" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti Matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas \"perlakuanbaikku\", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya lah untuk beribadah....
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja
(disadur dari puisi karya W.S. RENDRA)
puspa
23/02/09 @ 1:39PM
2 Mgu kemarin alumni isvill angk lulus tahun 1997 ngadain reuni di SMS. lumayan seru acaranya...
Yang dateng sekitar 100 orang....
kangen juga sepertinya dengan suasana Isvill, apalagi guru2nya, BU Rofi, Bu Ningsih, Bu Fadillah, Bu Ika, Bu Rosida, Bu Ana, Pak Mashudi, Pak Iyan, Pak Royani,
KAntin Gorengan dideket kamar mandi....
Makanan yang biasa kita sebut \\\"Lidi\\\"
Masjid Al-Istigna yang waktu aku kelas 6 baru selesai di bangun...
Lomba Puisi antar Kabupaten...
Lomba Nari...
Sampe sekarang akhirnya ketemu jodoh alhamdullilah alumni Isvill juga satu tahun diatasku..
Go Isvill...Semoga selalu meningkatkan kualitas pendidikannya....